Pangeran kecil melangkah ke planet berikutnya, sebuah tempat yang terasa begitu sunyi, tetapi dipenuhi dengan kesibukan yang aneh. Di tengah planet itu, duduk seorang pria di sebuah meja besar, dikelilingi oleh tumpukan kertas dan kalkulator tua. Pria itu sibuk mencatat angka-angka dengan tergesa-gesa, tanpa mengangkat kepala atau menyadari kedatangan tamunya.
“Selamat pagi,” sapa Pangeran kecil dengan sopan.
“Selamat pagi,” balas pria itu, tetapi ia tidak menoleh. “Aku sedang sibuk.”
“Sedang apa kau?” tanya Pangeran kecil, suaranya lembut seperti embun pagi.
“Aku sedang menghitung,” jawab pria itu tegas.
“Menghitung apa?”
“Bintang-bintang,” kata pria itu, akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya berbinar dengan kegembiraan yang dingin. “Aku memiliki jutaan bintang. Mereka semua milikku.”
Pangeran kecil tertegun. “Milikmu? Bagaimana caranya kau memiliki bintang-bintang?”
“Karena aku yang pertama kali memikirkan untuk memilikinya,” jawab pria itu dengan penuh kebanggaan. “Aku menghitungnya, mencatat jumlahnya, dan kini mereka adalah milikku. Itu membuatku kaya.”
Pangeran kecil memandang pria itu dengan rasa bingung yang mendalam. Ia memandang ke langit, tempat bintang-bintang bersinar bebas, terlalu jauh untuk disentuh, terlalu indah untuk dimiliki. “Apa yang kau lakukan dengan bintang-bintangmu?” tanyanya akhirnya.
“Aku menghitungnya lagi dan lagi,” jawab pria itu. “Aku mencatat jumlahnya, dan aku menyimpannya dengan aman.”
“Tapi… itu saja?”
Pria itu tampak tersinggung. “Tentu saja! Itu pekerjaan penting. Aku orang yang sibuk.”
Pangeran kecil mengangguk perlahan, tetapi hatinya penuh kebingungan. Pria ini memiliki jutaan bintang, tetapi tidak pernah menikmati sinarnya. Ia sibuk mengklaim keindahan, tetapi tidak pernah merasakan kehangatan atau kekaguman darinya. Kekayaannya adalah angka-angka di atas kertas, bukan sesuatu yang hidup atau bermakna.
“Di planetku,” kata Pangeran kecil dengan suara lembut, “aku memiliki bunga. Aku menyiraminya setiap hari, melindunginya dari angin, dan merawatnya. Aku pikir, itulah artinya memiliki sesuatu—menjadi berguna baginya, bukan hanya memilikinya.”
Pria itu terdiam sejenak, tetapi segera kembali menghitung. Kata-kata Pangeran kecil tampaknya terlalu jauh dari dunianya yang penuh angka.
Saat Pangeran kecil meninggalkan planet itu, hatinya dipenuhi oleh perasaan aneh. Ia merenungkan pria itu—seseorang yang begitu sibuk mengklaim sesuatu yang tidak bisa benar-benar ia miliki. Mengapa manusia sering kali berusaha memiliki sesuatu, tetapi melupakan untuk mencintainya?
Langkah Pangeran kecil kembali menuju bintang-bintang, mencari tempat di mana cinta lebih penting daripada kepemilikan, di mana kebahagiaan lebih dari sekadar angka di atas kertas. ***

Tinggalkan komentar