Dalam perjalanan panjangnya, Pangeran kecil tiba di sebuah planet yang dipenuhi kehampaan, kecuali singgasana megah di tengahnya. Di sana duduk seorang raja, berjubah panjang yang menjuntai hingga menutupi hampir seluruh permukaan planetnya. Raja itu menyambut Pangeran kecil dengan antusiasme yang agung, seperti seseorang yang telah lama menunggu tamu di tengah kesunyian.

“Ah, seorang rakyat!” seru raja, matanya berbinar seolah-olah Pangeran kecil telah memenuhi takdir planet itu.

Pangeran kecil mengerutkan kening, “Rakyat?”

“Ya,” jawab raja sambil mengangkat tangannya dengan anggun. “Aku adalah penguasa segalanya.” Ia menunjuk bintang-bintang di langit dan berkata, “Semua ini adalah milikku. Aku memerintahnya, dan mereka menaati perintahku.”

Pangeran kecil, dengan kepolosannya, memandang raja itu dengan rasa ingin tahu. “Tetapi apa yang kau perintahkan pada bintang-bintang itu?” tanyanya.

Raja tersenyum puas. “Aku memerintahkan mereka untuk bersinar pada waktunya. Dan mereka selalu menurut.”

Pangeran kecil mengangguk perlahan, tetapi ada sesuatu dalam hatinya yang merasa ganjil. “Apakah itu benar-benar kekuasaan?” pikirnya. Bintang-bintang akan bersinar dengan atau tanpa perintah raja. Tetapi ia tidak ingin menyinggung raja yang tampak begitu bangga dengan tahtanya.

Lalu, dengan suara lembut, Pangeran kecil bertanya, “Jika kau seorang raja, bolehkah aku meminta sesuatu?”

“Tentu saja!” kata raja dengan angkuh. “Aku adalah raja yang adil. Aku memerintahkan hanya apa yang masuk akal.”

“Baiklah,” kata Pangeran kecil. “Aku ingin melihat matahari terbenam.”

Raja tampak terkejut, tetapi ia segera pulih dari keterkejutannya. “Itu mungkin, tentu saja. Tapi kau harus menunggu. Aku akan memerintahkan matahari terbenam ketika waktunya tiba.”

Pangeran kecil terdiam, merasakan kekecewaan yang samar. Raja ini, dengan seluruh kekuasaannya, sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Ia duduk sendirian di planet kecilnya, memerintah bintang-bintang yang tidak pernah mendengar suaranya, dan menetapkan aturan yang hanya ia sendiri pedulikan. Kekuasaan raja itu bukanlah kekuatan sejati, melainkan hanya kesunyian yang menyamar dalam bentuk otoritas.

“Apakah kau kesepian di sini?” tanya Pangeran kecil dengan lembut.

Raja tampak terganggu oleh pertanyaan itu, tetapi ia menjawab dengan suara yang tegas, “Seorang raja tidak pernah kesepian. Ia memiliki tugas besar untuk memerintah.”

Namun, di balik suara tegas itu, Pangeran kecil mendengar nada yang samar: kesepian yang begitu mendalam hingga tidak berani diakui.

Ketika Pangeran kecil meninggalkan planet itu, ia merenungkan apa yang baru saja ia saksikan. Kekuasaan, pikirnya, tidak berarti jika tidak diiringi dengan cinta dan hubungan. Raja itu memiliki segalanya, tetapi sebenarnya ia tidak memiliki apa pun. Kekuasaan yang hanya untuk kekuasaan adalah kehampaan, sama seperti planet itu, yang sunyi dan tak berpenghuni.

Di tengah keheningan semesta, Pangeran kecil kembali melangkah, membawa pelajaran baru: bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada perintah, tetapi pada pemahaman dan kasih sayang. ***

Tinggalkan komentar